
Sebanyak 15 peserta yang terdiri dari empat tarekat religius di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta dua katekis Katolik mengikuti Workshop VCAT (Value Clarification Action and Transformation) yang diselenggarakan oleh Layung Kristi. Workshop yang mengangkat tema SOGIESC dan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksualitas (KBGS) ini menjadi pilot project pertama yang secara khusus menyasar rohaniawan dan katekis Katolik.
Kegiatan berlangsung hangat, reflektif, sekaligus penuh dinamika karena peserta diajak melihat isu gender dan seksualitas dari sudut pandang kemanusiaan, pengalaman hidup, serta nilai-nilai iman.
Mengenal Diri dan Nilai yang Dimiliki
Workshop dipandu oleh Augustine Mira selaku fasilitator. Dalam pengantarnya, Augustine mengutip pesan Pope Francis bahwa sejatinya Gereja adalah “rahmat yang faktual,” yakni Gereja yang hadir dan menyentuh realitas hidup manusia secara nyata.
“Peserta diajak terlebih dahulu mengenal diri sendiri dan nilai-nilai yang dimiliki sebelum berbicara mengenai orang lain,” ungkap Augustine.
Kegiatan diawali dengan pre-test untuk melihat pemahaman awal peserta terkait isu gender, seksualitas, dan kekerasan berbasis gender. Setelah seluruh rangkaian selesai, peserta kembali mengerjakan post-test sebagai bentuk refleksi dan evaluasi pembelajaran.
Sesi Pertama: Melintas Batas Pemahaman
Pada sesi pertama bertajuk Melintas Batas, peserta diajak mendalami berbagai pertanyaan reflektif, seperti apakah seks sama dengan gender, apa yang dimaksud orientasi seksual, hingga apakah layanan kontrasepsi dan aborsi aman merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Diskusi berlangsung cukup dinamis. Beberapa suster tampak ragu-ragu dalam menentukan sikap, sementara sebagian besar peserta memilih jawaban “setuju” dalam beberapa pertanyaan reflektif yang diajukan.
Menanggapi hal tersebut, Augustine Mira menegaskan bahwa persoalan aborsi memiliki banyak aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat dilihat secara hitam putih semata.
“Sebuah persoalan perlu dilihat secara utuh, mulai dari pengalaman hidup, relasi sosial, hingga situasi yang melatarbelakanginya,” jelasnya.
Diskusi Kelompok Berlangsung Seru
Memasuki sesi kedua, peserta dibagi menjadi tiga kelompok Focus Group Discussion (FGD). Suasana diskusi tampak hidup karena setiap kelompok saling berbagi pandangan dan pengalaman.
Kelompok pertama membahas tentang seks, gender, seksualitas, serta pengenalan mengenai SOGIESC (Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression and Sex Characteristics).
Kelompok kedua mendalami persoalan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksualitas (KBGS), termasuk faktor budaya dan tafsir agama yang dinilai turut memengaruhi terjadinya kekerasan.
Sementara kelompok ketiga membahas norma budaya dan tafsir agama yang mengatur tubuh manusia, sekaligus merefleksikan mengapa tubuh sering menjadi ruang yang diatur oleh masyarakat maupun agama.
Presentasi hasil FGD berlangsung seru dan menarik. Para peserta tampak antusias menyampaikan pandangan sekaligus mendengarkan pengalaman dari peserta lain.
Mengenal LGBTIQ dan Refleksi Kasus Nyata
Sebelum makan siang, peserta diajak mengenal lebih jauh mengenai istilah dan realitas hidup komunitas LGBTIQ. Sesi ini membuka ruang dialog yang cukup mendalam karena banyak peserta mengaku baru pertama kali mendalami tema tersebut secara langsung.
Setelah makan siang, workshop dilanjutkan dengan sesi ketiga bertajuk Why Did She Die. Dalam sesi ini, peserta diajak menganalisis studi kasus tentang seorang perempuan bernama Maria.
Melalui studi kasus tersebut, fasilitator mengajak peserta merefleksikan pengalaman di sekitar mereka.
“Apakah kita pernah melihat, mendengar, atau bahkan berada dekat dengan pengalaman serupa?” tanya fasilitator kepada peserta.
Pertanyaan tersebut membawa suasana workshop menjadi lebih hening dan reflektif. Banyak peserta mulai menyadari bahwa kekerasan berbasis gender dan seksualitas sering hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun kerap tidak disadari atau diabaikan.
Workshop VCAT ini diharapkan menjadi langkah awal bagi para rohaniawan dan katekis untuk semakin terbuka dalam mendampingi umat dengan pendekatan yang lebih manusiawi, reflektif, dan berbelarasa.
