Layung Kristi
Disalin

Ngobrol Teologi Seksualitas bersama Yohanes Dwi Harsanto – Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang

12
Mar 2026
Penulis :  Layung Kristi
Dilihat :  314x

Menjunjung Martabat Manusia dalam Terang Teologi dan Pastoral Gereja

Di tengah berbagai perbincangan tentang seksualitas manusia, Gereja Katolik terus berusaha membaca tanda-tanda zaman. Dalam sebuah percakapan bersama Yohanes Dwi Harsanto, Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang, muncul refleksi menarik tentang bagaimana teologi dan pastoral Gereja memandang realitas LGBTIQ+ saat ini.

Percakapan ini tidak hanya menyentuh dimensi teologis, tetapi juga menghadirkan gambaran tentang Gereja yang terus belajar merangkul dan menjaga martabat setiap manusia.

Teologi yang Bertumbuh Bersama Zaman

Romo Santo memulai refleksinya dengan menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan Romo Agustinus Agus Widodo dari Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta, seorang teolog yang mendalami bidang patristik. Dari percakapan tersebut muncul satu kesadaran penting: pendekatan terhadap isu LGBTIQ+ tidak dapat hanya bertumpu pada teologi patristik, yakni refleksi teologi pada masa awal Kekristenan sekitar abad pertama hingga abad keenam.

Teologi patristik lahir dalam konteks sejarah yang sangat berbeda dengan dunia saat ini. Pada masa itu, perkembangan ilmu pengetahuan tentang manusia, termasuk mengenai seksualitas, masih sangat terbatas.

Karena itu, menurut Romo Santo, refleksi teologis masa kini juga perlu memperhatikan perkembangan teologi modern yang telah berdialog dengan ilmu pengetahuan serta pemahaman yang lebih luas tentang manusia.

Meski berasal dari konteks yang berbeda, baik teologi patristik maupun teologi modern memiliki tujuan yang sama, yakni mengarahkan manusia pada keselamatan. Di situlah Gereja menemukan titik tolak refleksinya.

Pada akhirnya, inti dari refleksi teologis tersebut sebenarnya sangat mendasar: manusia, dalam kondisi apa pun, tetap memiliki martabat. Tugas Gereja adalah menjaga agar martabat itu selalu dihormati dan dihargai.

Teladan Kasih dari Kristus

Dalam perspektif pastoral, Romo Santo menegaskan bahwa teladan utama Gereja tetaplah Kristus sendiri. Dalam Injil, Yesus kerap digambarkan mendekati mereka yang tersisih dan dipinggirkan oleh masyarakat.

Kristus hadir untuk menunjukkan kasih Allah kepada setiap manusia. Karena itu, siapa pun seseorang, ia tetap berharga di hadapan Allah.

Romo Santo juga menyinggung bahwa beberapa surat Paulus dalam Perjanjian Baru kerap menggunakan bahasa yang terkesan keras terhadap praktik-praktik seksual tertentu. Menurutnya, teks-teks tersebut perlu dibaca dalam konteks zamannya, ketika pengetahuan tentang manusia belum berkembang seperti sekarang.

Oleh sebab itu, Gereja terus berupaya membaca kembali Kitab Suci dalam terang perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia, agar pesan Injil tetap relevan bagi kehidupan umat saat ini.

Gereja yang Mau Duduk Bersama

Dalam pelayanan pastoral Keuskupan Agung Semarang, pendekatan yang ditekankan adalah berjalan bersama. Prinsip ini selaras dengan semangat yang kerap disampaikan oleh Uskup setempat:

“Lungguh bareng, rembukan bareng, mutuske bareng, nandangi bareng, nglakoni bareng.”

Ungkapan ini menggambarkan semangat untuk duduk bersama, berdiskusi bersama, mengambil keputusan bersama, mengerjakan bersama, dan menjalani perjalanan iman bersama.

Semangat sinodal tersebut menjadi dasar pendekatan pastoral terhadap berbagai kelompok umat, termasuk komunitas LGBTIQ+. Gereja diajak untuk membuka ruang mendengar, berdialog, serta mencari jalan bersama dalam terang iman.

Baptis Dewasa dan Pertanyaan tentang Identitas

Percakapan ini juga menyentuh sebuah kasus konkret: seorang transpuan yang ingin menerima baptisan dewasa, namun merasa tidak nyaman dengan aturan berpakaian yang harus mengikuti jenis kelamin saat lahir.

Menanggapi hal tersebut, Romo Santo menegaskan bahwa yang paling mendasar dalam penerimaan sakramen baptis bukanlah soal atribut lahiriah, melainkan iman seseorang.

Ketika seseorang sungguh ingin mengenal Kristus, memahami ajaran iman Katolik, dan berkomitmen untuk hidup dalam Gereja, maka itulah dasar utama untuk menerima baptisan.

Hal-hal yang bersifat teknis, seperti pakaian atau bentuk perayaan, masih dapat dibicarakan bersama untuk menemukan jalan yang bijaksana. Yang terpenting adalah kerinduan seseorang untuk menjadi bagian dari Gereja tidak terhalang.

Nama Baptis dan Jalan Tengah

Diskusi juga menyentuh soal pemilihan nama baptis bagi umat yang memiliki identitas gender berbeda dari jenis kelamin yang tercatat saat lahir. Dalam tradisi Gereja, nama baptis biasanya diambil dari nama santo atau santa.

Romo Santo menjelaskan bahwa terdapat pula nama-nama malaikat yang bersifat lebih netral, seperti Mikael, Rafael, dan Gabriel. Nama-nama ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi mereka yang mencari pelindung rohani tanpa harus terikat pada kategori gender tertentu.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam pencatatan resmi Gereja, aturan yang berlaku saat ini masih mengacu pada jenis kelamin biologis saat lahir. Namun demikian, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menolak seseorang yang ingin menerima sakramen baptis.

Yang utama tetaplah sakramen itu sendiri. Orientasi seksual seseorang tidak pernah menjadi bagian dari data yang dicatat dalam buku baptis Gereja.

Berjalan Bersama dalam Harapan

Dalam banyak hal, Gereja masih terus belajar. Realitas sosial berubah, pemahaman manusia berkembang, dan pastoral Gereja pun dipanggil untuk terus mencari cara yang setia pada Injil sekaligus manusiawi.

Percakapan dengan Romo Santo mengingatkan bahwa Gereja bukanlah ruang penghakiman, melainkan ruang perjumpaan—tempat di mana setiap orang dapat menemukan Kristus yang mengasihi dan menyelamatkan.

Pada akhirnya, misi Gereja tetap sama seperti sejak awal: mencari dan menyelamatkan.


Catatan

Patristik adalah studi tentang Kekristenan pada masa awal, yang berlangsung dari akhir periode Perjanjian Baru hingga awal Abad Pertengahan. Bidang ini menjadi salah satu dasar penting dalam teologi Kristen karena mempelajari masa ketika ajaran dan praktik iman Kristen mulai terbentuk. Kajian patristik meneliti tulisan dan kehidupan para Bapa Gereja yang mewartakan iman, memimpin komunitas, dan merumuskan ajaran dalam situasi yang sering kali penuh tantangan.
(Sumber: University of Oxford – Faculty of Theology)

Feel Free to Contact Us
Layung Kristi
Layung Kristi adalah komunitas Queer Katolik yang bertumbuh di wilayah Keuskupan Agung Semarang.
Layung Kristi