Layung Kristi
Disalin

Di Mana Ada Cinta Kasih, Di Situ Tuhan Hadir

27
Feb 2026
KategoriQueering Action
Penulis :  Layung Kristi
Dilihat :  93x

Saya, bersama umat Katolik ragam gender dan seksualitas lainnya, baru saja menyelesaikan sebuah retret yang meninggalkan kesan mendalam dan sukacita tak terbendung. Retret dua hari satu malam ini diselenggarakan oleh Layung Kristi; komunitas yang bernaung di bawah Kevikepan Kategorial Yogyakarta; pada 27–28 September 2025 di Wisma Salam, Muntilan, Magelang. Kegiatan ini inklusif bagi ragam disabilitas dan iman, seluruhnya dilaksanakan dengan tata ibadah Katolik.

Perjalanan rohani ini diawali dengan sapaan penuh makna dari Romo Setiawan, SJ. Beliau menyentuh inti terdalam luka kami: bahwa alih-alih pergi dari Gereja, kami terluka oleh orang-orang di dalamnya. Romo Setiawan mengajak kami melihat kisah Yesus yang sejatinya tidak bicara tentang agama; sebuah konsep modern; melainkan tentang relasi yang tulus antara manusia dengan Allah. Beliau meneguhkan kami dengan pesan, “Saya dicintai Tuhan dengan cara saya sendiri,” sebuah afirmasi yang memulihkan dan memvalidasi.

Kami merefleksikan kembali definisi “domba yang hilang.” Selama ini, narasi Gereja cenderung merangkul kami dengan stigma dosa. Padahal, yang seharusnya dicari adalah mereka yang tetap di dalam Gereja, tapi justru melakukan pengucilan dan diskriminasi. Kami sadar, luka kami datang dari tindakan eksklusif dalam Gereja. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi otoritas Gereja untuk melihat kembali dan membangun tindakan-tindakan afirmatif dan memberdayakan.

Sukacita kami tak terbendung ketika merasakan penyambutan ini. Pengalaman pulang ke rumah ini menegaskan bahwa Gereja adalah Bapak yang menerima kami seutuhnya.

Beranjak dari luka masa lalu, kami kemudian memasuki sesi Masa Kini dan Masa Depan, yang dipandu oleh Romo Santo, Pr dan Fr. Wahyu, SJ. Ruang dialektika yang dibuka terasa ramah, santai, dan penuh hormat.

Romo Santo mengingatkan kami bahwa kami dipanggil untuk menjadi “nabi-nabi yang mewartakan kesetaraan” dan mensyukuri kehadiran Kevikepan Kategorial (didirikan 1 Juni 2018) sebagai rahmat bagi komunitas yang tidak berparoki. Tujuannya sederhana: “Kita ini hidup bersama untuk nyaman bersama.”

Fr. Wahyu, yang juga memiliki pengalaman mendampingi Pesantren Waria Alfatah, menekankan dua kata kunci: kesetaraan dan kenyamanan. Beliau mengajak kami memastikan bahwa apapun pilihan hidup kami, ia harus nyaman untuk diri sendiri dan orang lain.

Melalui dialog ini, jurang yang terbentuk karena ketidaktahuan mulai terdekat. Kami menyimpulkan bahwa narasi dosa tidak sesuai untuk merangkul jemaat queer. Sebaliknya, yang menjadi esensi adalah cinta kasih. Di mana ada cinta kasih, di situ Tuhan hadir. Perjumpaan ini sungguh membangun resiliensi kami.

Sebagai umat, harapan kami ke depan semakin besar. Kami berharap Layung Kristi dapat terlibat dalam proses perencanaan Kevikepan Kategorial, dan semakin banyak ruang penerimaan, seperti rencana audiensi dengan Bapak Uskup Agung Semarang, terbuka. Kami percaya, banyak umat queer yang rindu pulang ke Gereja, dan Gereja yang inklusif adalah jawabannya.

Oleh: anggota Layung Kristi

Feel Free to Contact Us
Layung Kristi
Layung Kristi adalah komunitas Queer Katolik yang bertumbuh di wilayah Keuskupan Agung Semarang.
Layung Kristi