Layung Kristi
Disalin

Layung Kristi Ajak Mahasiswa Katolik Belajar Mendengar dan Memahami Isu LGBTQ dalam Perspektif Gereja

12
Jun 2026
Penulis :  Layung Kristi
Dilihat :  191x

Sebanyak 32 mahasiswa dari berbagai universitas yang tergabung dalam Persaudaraan Mahasiswa Katolik Yogyakarta bersama Pusat Pastoran Mahasiswa mengikuti kegiatan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Katolik Angkatan ke-… yang diselenggarakan oleh Persaudaraan Mahasiswa Katolik dan Pusat Pastoral Mahasiswa di Gedung PTPM Panti Semedi, Yogyakarta. Kegiatan ini mengangkat tema “Bagaimana Sikap Gereja dan Umat pada LGBTQ” sebagai ruang refleksi, dialog, dan pembelajaran bersama bagi kaum muda Katolik.

Kegiatan diawali dengan pertanyaan sederhana namun reflektif dari Augustine sebagai narasumber, “Apakah teman-teman pernah mendengar tentang LGBTQ?” Pertanyaan itu langsung membuka ruang diskusi yang hidup di antara peserta. Para mahasiswa kemudian diminta menyampaikan satu kata yang terlintas ketika mendengar istilah LGBT. Berbagai jawaban muncul, seperti “pelangi”, “kasihan”, “aneh”, “ngeri”, “upnormal”, “jijik”, hingga “harga diri”.

Salah satu peserta dari Kalimantan Barat mengungkapkan bahwa menurutnya identitas laki-laki dan perempuan merupakan kodrat yang diberikan Tuhan sejak lahir. Ia menyampaikan kegelisahannya mengenai tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan identitas gender biologis. Meski demikian, forum tetap berjalan dalam suasana dialog yang terbuka dan saling menghargai.

Dalam sesi materi, peserta diajak membedakan antara seks dan gender. Augustine sebagai narasumber menjelaskan bahwa seks berkaitan dengan jenis kelamin biologis yang dibawa sejak lahir, seperti organ reproduksi dan karakter biologis manusia. Seks dipahami memiliki sifat kodrati, universal, dan tidak dapat dipertukarkan.

Sementara itu, gender dijelaskan sebagai konstruksi sosial yang berkembang dalam budaya dan masyarakat. Contohnya, anggapan perempuan harus lembut atau laki-laki harus menjadi pemimpin ternyata dapat berbeda-beda tergantung ruang dan waktu. Dalam beberapa budaya tertentu bahkan perempuan dapat menjadi pemimpin adat maupun masyarakat.

Peserta juga diperkenalkan dengan istilah SOGIESC yang mencakup Sexual Orientation, Gender Identity, Gender Expression, dan Sex Characteristics. Melalui penjelasan tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa pengalaman setiap manusia memiliki latar belakang yang kompleks dan tidak selalu dapat disederhanakan.

Salah satu pernyataan yang cukup menyentuh muncul ketika narasumber menyampaikan, “Kami tidak pernah memilih untuk menjadi LGBTQ. Kami hanya berharap, kalaupun teman-teman tidak setuju, jangan menyakiti kami.” Kalimat tersebut membuat suasana ruangan menjadi lebih hening dan reflektif.

Dalam sesi tanya jawab, peserta mengangkat berbagai pertanyaan kritis mengenai sejarah LGBTQ, kaitannya dengan Kitab Suci, pandangan biologis dan agama, hingga pertanyaan apakah LGBTQ merupakan dosa. Diskusi berlangsung mendalam namun tetap dalam suasana saling menghormati.

Narasumber kemudian mengajak peserta untuk melihat persoalan ini tidak hanya dari sudut penghakiman, tetapi juga dari sisi kemanusiaan dan pendampingan pastoral. Peserta diajak untuk tidak terjebak hanya pada pertanyaan “mengapa”, melainkan menghadirkan diri sebagai pribadi yang mampu mendengar dengan hati.

Selain itu, mahasiswa juga diajak menyadari pentingnya peran keluarga dan orang tua dalam proses tumbuh kembang anak. Dialog tersebut membuka kesadaran bahwa setiap pribadi memiliki pergulatan hidup yang perlu dipahami dengan kasih dan empati.

Kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan momentum 17 Mei sebagai Hari Internasional Melawan Homofobia, Bifobia, dan Transfobia ini menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa Katolik. Melalui kegiatan ini, Layung Kristi berharap kaum muda Katolik mampu menjadi pemimpin yang bijaksana, kritis, berbelarasa, serta mampu menghadirkan semangat Gereja yang mendengarkan dan merangkul setiap pribadi manusia.

Feel Free to Contact Us
Layung Kristi
Layung Kristi adalah komunitas Queer Katolik yang bertumbuh di wilayah Keuskupan Agung Semarang.
Layung Kristi