Layung Kristi
Disalin

Dialog Fratelli Tutti: Membangun Persaudaraan Penuh Hormat Ditengah Keberagaman

12
Jun 2026
Penulis :  Layung Kristi
Dilihat :  118x

Di tengah dunia yang kerap dipenuhi prasangka dan sekat perbedaan, mahasiswa-mahasiswi Katolik Universitas Gadjah Mada bersama Kelompok Kategorial Layung Christi menghadirkan sebuah ruang perjumpaan yang hangat, jujur, sekaligus menggugah hati melalui kegiatan sarasehan dan dialog interaktif bertema “Dialog Fratelli Tutti: Membangun Persaudaraan Penuh Hormat di Tengah Keberagaman.” Aula rumah retret sarasvita sebagai saksi atas perjumpaan tersebut pada sabtu 10 mei 2026

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana sederhana namun penuh makna ini menjadi jawaban atas kerinduan banyak orang akan hadirnya ruang dialog yang manusiawi, tempat setiap pribadi dapat didengar dan dihargai sebagai saudara. Mengangkat semangat Fratelli Tutti, para peserta diajak melihat kembali panggilan Gereja untuk membangun persaudaraan universal tanpa memandang latar belakang maupun pergulatan hidup seseorang.

Dalam sesi pembuka, salah satu dosen Agama Katolik UGM menyampaikan materi singkat mengenai ensiklik Fratelli Tutti dari Pope Francis. Ia menekankan bahwa persaudaraan sejati tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberanian untuk saling menghormati dan berjalan bersama di tengah perbedaan. Peserta diajak merenungkan bahwa Gereja dipanggil menjadi rumah yang menyembuhkan luka, bukan tempat yang memperlebar jarak.

Suasana semakin mendalam ketika tiga anggota Kelompok Layung Christi membagikan kisah hidup mereka secara terbuka. Dengan dipandu moderator, mereka berbicara tentang perjuangan menerima diri, pengalaman ditolak, rasa takut dihakimi, hingga harapan untuk tetap diterima sebagai bagian dari Gereja dan masyarakat. Tidak sedikit peserta yang tampak terdiam, bahkan menitikkan air mata ketika mendengar kisah nyata tentang luka batin yang selama ini jarang didengar secara langsung.

Namun dialog yang jujur memang tidak selalu berjalan mulus. Dalam sesi diskusi panel dan tanya jawab, beberapa pertanyaan dari mahasiswa muncul dengan nada yang cukup tajam dan membuat Augustine dari Layung Christi tampak sedikit geram. Beberapa pertanyaan dinilai masih dipengaruhi stereotip dan cara pandang yang kurang sensitif terhadap pengalaman hidup kelompok tertentu. Meski suasana sempat menegang, Augustine berusaha menjawab dengan tegas namun tetap terbuka. Ia mengungkapkan bahwa yang paling dibutuhkan bukanlah penghakiman, melainkan kesediaan untuk mendengarkan dan memahami manusia secara utuh.

“Kadang yang melukai bukan hanya penolakan, tetapi ketika orang berbicara tentang kami tanpa pernah mau mendengar cerita kami,” ungkap Augustine dalam forum dialog tersebut. Pernyataan itu seketika membuat ruangan menjadi hening dan reflektif. Banyak peserta mulai menyadari bahwa dialog sejati menuntut kerendahan hati untuk belajar memahami sebelum menilai.

Salah satu mahasiswa peserta sarasehan mengaku mendapatkan pengalaman baru yang sangat membuka wawasan. “Saya datang dengan banyak pertanyaan dan penilaian sendiri. Tetapi setelah mendengar sharing mereka secara langsung, saya belajar bahwa setiap manusia punya perjuangan hidup yang tidak bisa disederhanakan begitu saja,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu anggota Layung Christi menyampaikan rasa syukur karena masih ada ruang aman untuk berdialog. “Kami tidak mencari pembenaran, tetapi berharap bisa diterima sebagai manusia dan saudara. Hari ini kami merasa didengarkan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai tindak lanjut, peserta diminta membuat rangkuman refleksi dan niat-aksi nyata sederhana dalam terang Fratelli Tutti. Ada yang menulis komitmen untuk belajar mendengar tanpa menghakimi, membangun relasi yang lebih penuh hormat, hingga berani menjadi pribadi yang menghadirkan kasih di lingkungan sekitar.

Sarasehan kemudian ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dimaknai sebagai sakramen penyembuh. Dalam suasana doa yang hening dan khidmat, seluruh peserta diajak menyerahkan luka, prasangka, dan kegelisahan kepada Tuhan. Ekaristi menjadi simbol bahwa di hadapan Kristus, setiap manusia dipanggil duduk bersama sebagai saudara dalam kasih yang menyembuhkan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Katolik UGM dan Layung Christi menunjukkan bahwa dialog yang jujur memang dapat menghadirkan ketegangan, tetapi justru di sanalah persaudaraan sejati diuji dan dibangun. Ketika manusia berani saling mendengar dengan hati, harapan akan Gereja yang lebih ramah, penuh hormat, dan menyembuhkan perlahan menjadi nyata.

Feel Free to Contact Us
Layung Kristi
Layung Kristi adalah komunitas Queer Katolik yang bertumbuh di wilayah Keuskupan Agung Semarang.
Layung Kristi