Layung Kristi
Disalin

Membaca Kasih yang Tidak Menyisihkan, Jejak Kristus dalam Hidup LGBTIQ dalam Terang ARDAS IX

05
Feb 2026
KategoriQueering Action
Penulis :  Layung Kristi
Dilihat :  82x

Di tengah dunia yang sering kali terburu-buru memberi label dan penghakiman, Rumah Retret KSED Bandungan pada 21–23 November 2025 menjadi ruang hening yang menyembuhkan. Di tempat inilah, 30 pribadi dari berbagai kota—Semarang, Surabaya, Cirebon, Bandung, dan Yogyakarta—berjumpa, berhenti sejenak, dan menata ulang relasi mereka dengan diri sendiri, sesama, dan Allah.

Retret komunitas LGBTIQ dengan tema “Menjadi LGBTIQ: Diberkati dan Memberkati” bukan sekadar kegiatan pastoral. Ia adalah perjalanan iman. Sebuah ziarah batin untuk menemukan kembali bahwa hidup—dalam segala ragam identitas dan pengalaman—tetap berada dalam pelukan kasih Allah.

Diselenggarakan oleh PHBK bersama Persekutuan Oikumene, dengan dukungan Kevikepan Kategorial Keuskupan Agung Semarang, retret ini menghadirkan Gereja bukan sebagai hakim, melainkan sebagai sahabat seperjalanan.

Komunitas Layung Kristi hadir sebagai peserta, sekaligus sebagai pendengar dan saksi. Kehadiran ini menjadi bagian dari upaya mempererat jejaring komunitas LGBTIQ Katolik serta mengumpulkan kisah-kisah iman yang kelak akan dirangkai dalam sebuah buku tentang pergumulan dan pengharapan umat LGBTIQ Katolik di wilayah KAS—sebuah kesaksian bahwa iman tidak pernah tunggal, dan kasih Allah selalu menemukan jalannya.

Kebenaran yang Diterima dengan Rendah Hati

Pada hari kedua, peserta diajak masuk lebih dalam melalui dialog bersama Vikep Kategorial KAS, Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. Dengan ketenangan dan kejernihan, Romo mengajak peserta berdamai dengan fakta kehidupan: bahwa realitas biologis adalah sebuah kebenaran yang tidak lahir dari pendapat, melainkan dari kenyataan itu sendiri.

Dalam terang ilmu pengetahuan, orientasi seksual dan identitas gender bukanlah penyimpangan, melainkan bagian dari keberagaman manusia sebagai Homo sapiens. Kebenaran ini tetap ada, bahkan ketika ditolak, disangkal, atau diabaikan. Seperti bumi yang tetap bulat meski pernah diperdebatkan, kebenaran tidak bergantung pada kuasa atau suara mayoritas.

Romo mengingatkan bahaya “authority-based truth”, ketika kebenaran ditentukan oleh siapa yang berkuasa, bukan oleh fakta dan kasih. Dalam situasi seperti inilah, banyak orang LGBTIQ mengalami luka yang tidak kasat mata: dipinggirkan, dilemahkan, bahkan dipaksa menyangkal diri demi diterima.

Pendekatan ilmiah—khususnya biologi—menjadi jembatan penting agar iman tidak kehilangan kemanusiaannya. Ketika agama menutup diri dari fakta, ia berisiko menjauh dari wajah Allah yang sejati: Allah yang hadir dalam daging, dalam realitas, dalam kehidupan sehari-hari.

Wajah Kristus dalam Mereka yang Tersingkir

Mengapa komunitas LGBTIQ ditempatkan dalam perhatian KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Disabilitas)? Pertanyaan ini menemukan jawabannya dalam komitmen Gereja Indonesia melalui SAGKI 2025 dan ARDAS IX KAS.

Ketika pengkerdilan dan peminggiran terjadi secara struktural—oleh norma sosial, kebijakan, dan otoritas—maka luka itu menjadi nyata dan sistemik. Dalam terang Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengajak Gereja membuka ruang persaudaraan yang tidak memilih-milih, sebagaimana diteladankan Santo Fransiskus Asisi.

Dokumen Dilexit Nos mengingatkan bahwa kemiskinan memiliki banyak wajah: bukan hanya kekurangan materi, tetapi juga kehilangan suara, martabat, ruang, dan kebebasan. Di wajah-wajah yang terluka itulah, Gereja diajak mengenali penderitaan Kristus sendiri.

Dengan kesadaran ini, Gereja Katolik menegaskan sikapnya: Kitab Suci adalah refleksi iman, dan iman yang hidup selalu berdialog dengan kebenaran ilmiah demi menjaga martabat manusia.

Gereja yang Memanusiakan dan Membahagiakan

ARDAS IX mengajak Gereja menjadi bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Bahagia bukan sekadar senang, melainkan pengalaman relasional—hadir bersama orang lain, menghormati, mendoakan, dan mencintai.

Agama menemukan maknanya bukan ketika menghakimi, tetapi ketika menemani. Gereja dipanggil bukan untuk memaksa umat menjadi “seharusnya”, melainkan membantu mereka hidup “seadanya” dengan jujur di hadapan Allah.

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menegaskan bahwa sukacita Injil lahir dari perjumpaan dengan Kristus—sukacita yang membebaskan dari kesepian dan ketakutan. Sukacita inilah yang perlahan tumbuh dalam retret ini: bukan karena semua pertanyaan terjawab, tetapi karena setiap pribadi merasa didengar, diterima, dan disertai.

Menjadi Diberkati, Menjadi Berkat

Retret ini tidak meniadakan perbedaan pandangan di dalam Gereja. Namun justru di sanalah harapan tumbuh: Gereja yang berani berpikir, berdialog, dan belajar. Gereja yang belum sempurna, tetapi mau berjalan.

Bagi komunitas LGBTIQ, retret ini adalah pengingat lembut bahwa mereka bukan catatan kaki dalam Gereja, melainkan bagian dari Tubuh Kristus. Bahwa hidup mereka—dengan segala pergumulan dan kasihnya—adalah ruang di mana Allah terus bekerja.

Dan di sanalah jejak kasih Kristus dibaca dengan jernih:
dalam perjumpaan, dalam keberanian untuk jujur, dan dalam harapan bahwa kasih Allah tidak pernah menyisihkan siapa pun.

Feel Free to Contact Us
Layung Kristi
Layung Kristi adalah komunitas Queer Katolik yang bertumbuh di wilayah Keuskupan Agung Semarang.
Layung Kristi